Wahai penyempurna agamaku apa kabarmu? di petala cinta ini, aku menyebutmu dalam syair-syair Rinduku.
Kau yang membuatku berhasil serupa Adam, Bagaimana mungkin kujadikan engkau diposisi terhina di jasadku, sebagai alas kaki, ku injak-injak lantas kurendahkan dirimu sedemikian rupa. Bukankah kau tidak tercipta dari tulang kaki?
Tak selayaknya aku membebanimu dengan tanggung jawab yang sedemikian berat, mencari nafkah untukku dan anak-anaku guna bertahan hidup. Sungguh itu takkan mungkin kulakukan! karena kutahu kau tak tercipta dari tulang punggung.
Aku juga tak ingin menjadikanmu sebagai pemimpin di keluarga kita, mengatur biduk rumah tangga agar berjalan dengan baik. Jika itu ku lakukan kau akan berlaku semena-mena kepadaku dan anak-anaku kelak Bukankah kau tercipta tidak dari tulang kepala.
Kuingin mengajarimu dengan cinta dan kasih sayang, tidak menjadikanmu sebagai alat untuk melaksanakan semua keinginanku, dan semua nafsuku. Karena kutahu kau tercipta tak dari tulang tangan.
Sungguh, kau tercipta dari tulang rusukku, berada dibawah lenganku agar senantiasa kujaga serta ku lindungi dari berbagai macam bahaya, berada dalam ragaku dalam suka dan duka, selalu merasakan hal yang sama sepertiku hingga akhir masa.
Bagimana mungkin kupukul tulang rusukku sendiri ?
Kau yang membuatku berhasil serupa Adam, Bagaimana mungkin kujadikan engkau diposisi terhina di jasadku, sebagai alas kaki, ku injak-injak lantas kurendahkan dirimu sedemikian rupa. Bukankah kau tidak tercipta dari tulang kaki?
Tak selayaknya aku membebanimu dengan tanggung jawab yang sedemikian berat, mencari nafkah untukku dan anak-anaku guna bertahan hidup. Sungguh itu takkan mungkin kulakukan! karena kutahu kau tak tercipta dari tulang punggung.
Aku juga tak ingin menjadikanmu sebagai pemimpin di keluarga kita, mengatur biduk rumah tangga agar berjalan dengan baik. Jika itu ku lakukan kau akan berlaku semena-mena kepadaku dan anak-anaku kelak Bukankah kau tercipta tidak dari tulang kepala.
Kuingin mengajarimu dengan cinta dan kasih sayang, tidak menjadikanmu sebagai alat untuk melaksanakan semua keinginanku, dan semua nafsuku. Karena kutahu kau tercipta tak dari tulang tangan.
Sungguh, kau tercipta dari tulang rusukku, berada dibawah lenganku agar senantiasa kujaga serta ku lindungi dari berbagai macam bahaya, berada dalam ragaku dalam suka dan duka, selalu merasakan hal yang sama sepertiku hingga akhir masa.
Bagimana mungkin kupukul tulang rusukku sendiri ?
