Didalam dunia kampus kerap kali kita temui berbagai macam tipe mahasiswa dalam menjalankan kegiatan kulianya, salah satunya mahasiswa kupu-kupu ( kuliah-pulang kuliah-pulang), datang kekampus duduk, menyimak dosen, pulang kekost, langsung tidur. Sehingga lebih banyak aktifitas dikost daripada dikampus. Apalagi jika mahasiwa ini anak perantauan mengingat orang tua mereka dikampung banting tulang untuk mengkuliahkan anaknya dikota.
Coba perhatikan waktu SMA dulu, kita sudah diberitahu bahwa ketika kuliah dosen hanya menyampaikan pokok materi saja, kemudian mahasiswa lah yang dituntut mengembangkannya belajar sendiri, mencari ilmu sendiri, serta didalam persentase mahasiswa dituntut belajar retorika berbicara, namun tidak sedikit dari mahasiwa yang sulit dalam berkomunikasi dengan baik.
Kuliah merupakan tugas pokok mahasiswa yang mana mereka dituntuk paham dengan pembelajaran Hard Skill dikampus, padahal didalam persaingan dunia kerja yang dibutuhkan adalah Soft Skill baik itu berupa leadership, cara berkomunikasi, serta kemampuan memimpin unit organisasi.
Dewasa ini, hard skill bukanlah jaminan kesuksesan di dunia kerja. Memiliki soft skill akan lebih menjual dan berpengaruh bagi karir seseorang. “Dua keahlian tadi memang yang wajib dimiliki. Namun, kemampuan soft skill seperti kerja sama tim serta inovatiflah yang akan lebih sering digunakan nantinya,” ucap Rudi Widiyanto M.Psi, Psikolog Associate ECC UGM.
Untuk belajar itu semua dan menjadi mahasiswa yang kritis maka diperlukanya pengalaman dibidang organisasi, dimana disanalah tempat kita mengembang potensi diri, mencari jati diri, dan bermetamofosis menjadi mental baja yang siap terjun menyelesaikan masalah, semua itu ada didalam organisasi dan pasti tidak akan kita temui didalam perkuliahan. Nah sebagian orang berpikir bahwa organisasi akan mengganggu IP, karena kesibukan kita diorganisasi maka akan meninggalkan kuliah. Itu tidak benar, hal itu terjadi jika kita tidak bisa memajemen diri dan tidak bisa menyeimbangkan antara kuliah dan organsasi.
Pun banyak juga para aktivis kampus, organisasi itu nomor satu, ibaratnya ia mengambil jurusan kedua dikampus itu, tetapi kuliah harga mati bagi mereka, kenapa? mahasiswa yang cerdas adalah ia yang mampu menyeimbangkan antara kuliah dan organisasi, ia mampu berprestasi di bidang akademik dan berkarya diluar akademik, dan banyak orang besar yang lahir dari rahim organisasi.
Selayaknya pula sebagai mahasiswa diharapkan mampu menjadi agent of change yaitu mereka berpikir kritis dan mampu membawa perubahan yang lebih baik lagi. Ada juga mahasiswa yang berkoar-koar ketika demo mengkritik pemerintahan yang amburadul sedangkan nilai mata kuliahnya amburadul juga, ia tidak memandang kualitas diri dulu. Lumayan jika kuliahnya mantab, organisasinya oke, itu baru namanya mahasiswa sebagai agen perubahan, dan semua itu tidak lepas dari namanya manajemen organisasi yang baik. Karena prinsipnya adalah organisasi nomor satu, kuliah harga mati. Tidak ada kompromi.
FB : facebook.com/ky.nand
